Kontak

Alamat :

JL. Pramuka No 2 Nganjuk

Telepon :

0358321767

Email :

smpn1nganjuk20538364@gmail.com

Website :

smpn1nganjuk.sch.id

Media Sosial :

Konseling Sebaya Berbasis Daring Untuk Menjaga Kualitas Hidup Remaja Di Masa Pandemi Covid-19

Abstrak. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui dan mendeskripsikan mengenai konseling sebaya berbasis online agar kualitas hidup remaja tetap terjaga selama pandemi Covid-19 masih ada. Artikel ini adalah hasil studi pustaka dari berbagai literatur yang relevan dengan konseling sebaya untuk membantu menjaga kualitas hidup remaja di masa pandemi Covid-19. Teknik pengumpulan data dengan studi pustaka dan dokumentasi. Studi pustaka merupakan pengumpulan data yang bersumber pada buku-buku, literatur serta pada peraturan perundang-undangan yang memiliki relevasi dengan masalah yang sedang dikaji. Sementara itu dokumentasi adalah pengambilan data yang diperoleh melalui dokumen-dokumen tertentu. Dokumen dapat berbentuk tulisan, misalnya catatan harian, sejarah kehidupan, cerita, biografi, peraturan serta kebijakan yang sesuai dan berkaitan dengan penelitian ini. Analisis data penelitian ini, menggunakan teori analisis Creswell mulai dari reduksi, display sampai pada conclutions data. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pentingnya konseling sebaya berbasis online untuk tetap menjaga kualitas hidup remaja di masa pandemi Covid-19. Kualitas hidup remaja yang ditandai dengan terpenuhinya faktor fisik, psikologis, dan sosial menjadi proritas utama agar dapat tetap terjaga. Konseling sebaya berbasis online ini dilakukan dengan menggunakan bantuan aplikasi seperti zoom, google meet dan video call. Dimana teman sebaya yang bertindak sebagai konselor, untuk dapat membantu mencari informasi tentang komunitas atau kelompok remaja. Kemudian dapat memberikan kesempatan remaja untuk berinteraksi melalui aplikasi-aplikasi tersebut. Dengan upaya yang sedemikian rupa ini, maka diharapkan konseling sebaya berbasis online ini dapat memberikan solusi permasalahan remaja seperti kesepian, keterasingan selama pandemi Covid-19.

Abstract.
The purpose of this research is to find out and describe online-based peer counseling so that the quality of life of the elderly can be maintained during the Covid-19 pandemic. This article is the result of a literature study of various literature relevant to peer counseling to help maintain the quality of life of the elderly during the Covid-19 pandemic.
Data collection techniques with literature and documentation. Literature study is a collection of data that comes from books, literature, and laws and regulations that are relevant to the problem being studied. Meanwhile, documentation is the collection of data obtained through certain documents. Documents can be in the form of writing, for example diaries, life histories, stories, biographies, regulations and policies that are appropriate and related to this research. Analysis of the data in this study, using Creswell's analysis theory ranging from reduction, display to data conclutions. The results of this study indicate that the importance of online-based peer counseling is to maintain the quality of life of the elderly during the Covid-19 pandemic. The quality of life of the elderly which is marked by the fulfillment of physical, psychological, social and religious factors is the main priority in order to bemaintained. This online-based peer counseling is carried out using the help of applications such as zoom, google meet and video calls. Where the family acts as a counselor, to be able to help find information about the community or group of elderly people. Then it can provide the opportunity for the elderly to interact through these applications. With this kind of effort, it is hoped that online-based peer counseling can provide solutions to elderly problems such as loneliness and isolation during the Covid-19 pandemic.

Pendahuluan
Corona Virus Disease 2019 atau biasa dikenal dengan sebutan COVID-19 adalah sebuah penyakit menular yang disebabkan oleh SARS CoV-2, salah satu jenis koronavirus yang dapat menyebar antara orang-orang melalui percikan pernapasan (droplet). Sejak Maret 2020, WHO telah menyatakan bahwa COVID-19 sebagai pandemic global. Berbagai macam upaya telah dilakukan guna menghentikan mata rantai penyebaran virus antara lain seperti dengan mengikuti protocol kesehatan, tidak panik, tetap menjaga kesehatan, menghindari keramaian dan menjaga jarak, serta memperkuat imunitas tubuh (Mahfud & Gumantan, 2020). Selain dari kebijakan yang telah dibuat oleh pemerintah, perlu adanya respon balik dari masyarakat serta komitmen untuk dapat patuh terhadap kebijakan yang telah dibuat (Harirah & Rizaldi, 2020). Namun, keadaan yang berubah secara tiba-tiba membuat masyarakat tidak siap menghadapinya baik secara fisik maupun psikis (Sabir & Phill, 2016).

Sesuai dengan kebijakan physical distancing atau menjaga jarak demi mencegah penyebaran COVID-19, maka Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan dalam Surat Edaran Nomor 36962/MPK.A/HK/2020 mengatakan bahwa pembelajaran dilakukan secara daring dari rumah. Semua aktivitas kegiatan yang biasanya dilakukan di luar rumah tiba-tiba menjadi harus dilakukan dari rumah. Perubahan kondisi baru yang diikuti dengan berbagai macam permasalahan baru yang belum pernah dihadapi menjadi sebuah tantangan baru bagi remaja untuk bisa terus mengikuti dan beradaptasi dengan perubahan yang terjadi (Fauziyyah et al. 2021).

Menurut World Health Organization (WHO), rentang usia remaja adalah 10- 19 tahun; menurut Peraturan Mentri Kesehatan RI Nomor 25 tahun 2014, rentang usia remaja adalah 10-18 tahun; menurut Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN), rentang usia remaja adalah 10-24 tahun dan belum menikah. Jadi, seseorang dapat dikatakan remaja karena sudah tidak bisa lagi disebut kanak-kanak namun, belum cukup matang untuk dapat dikatakan dewasa atau bisa dibilang sebagai masa peralihan dari kanakkanak ke dewasa (Sumara et al. 2017).

Berdasarkan data di atas, maka situasi dan kondisi yang sedemikian rupa memicu persoalan baru yakni dampak psikologis bagi remaja. Dampak soscial distancing dan psychal distancing juga turut menjadi penyebab beban psikologis remaja. Semua aktivitas atau kegiatan yang melibatkan orang banyak sebenarnya tidak hanya untuk kesehatan fisik saja. Lebih dari itu, bahwa layanan tersebut juga untuk merawat kesehatan psikologis. Hal itu dikarenakan dalam layanan konseling sebaya tersebut, remaja akan bertemu, berinterkasi dan saling berkomunikasi dengan teman sebayanya. Dengan ditiadakannya layanan konseling sebaya bagi remaja di masa pandemi Covid-19 ini, remaja merasa kesepian karena tidak bisa berkumpul dengan teman sebayanya (Retno, 2020).

Permasalahan remaja di masa pandemi Covid-19 di atas perlu mendapatkan penanganan yang
tepat sehingga kualitas hidup remaja tetap terjaga. Melihat realitas di lapangan bahwa dampak pandemi Covid-19 bagi remaja, selain resiko ancaman kematian yang
masih tergolong rendah ancaman lainnya yang lebih menakutkan adalah kesepian, kesendirian dan keterasingan dari komunitas sebanyanya. Oleh sebab itu, keluarga sebagai orang-orang terdekat perlu mengambil langkah yang tepat untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Salah satu langkah yang dapat diambil adalah dengan melakukan konseling sebaya dengan media online. Konseling sebaya berbasis online dapat dilakukan melalui media zoom, google meet, dan video call. Hal ini menunjukkan bahwa keluarga perlu memfasilitasi remaja untuk dapat tetap melakukan komunikasi dengan sebanyanya untuk mengurangi rasa kesepian bagi remaja. Dengan demikian, maka dukungan keluarga dan teman sebaya adalah salah satu faktor yang sangat berpengaruh terhadap upaya pencegahan kasus Covid-19 pada remaja. (Retno, 2020).

 

Metode
Metode penelitian ini adalah kualitatif deskripsif dan jenis penelitian ini adalah studi pustaka
dengan berbagai literatur yang relevan dengan konseling sebaya dan korelasinya dengan kualitas hidup
remaja di masa pandemi Covid-19. Teknik pengumpulan data dengan studi pustaka dan dokumentasi. Studi pustaka merupakan pengumpulan data yang bersumber pada buku-buku, jurnal, literatur serta pada peraturan perundang-undangan yang memiliki relevasi dengan masalah yang sedang dikaji. Sementara itu dokumentasi adalah pengambilan data yang diperoleh melalui dokumen-dokumen tertentu. Dokumendapat berbentuk tulisan, misalnya catatan harian, sejarah kehidupan, cerita, biografi, peraturan serta kebijakan yang sesuai dan berkaitan dengan penelitian ini (Kurnia, 2020).


Hasil dan Pembahasan

1.      Konseling Sebaya Berbasis Online Di Masa Pandemi Covid-19

Pada awal mula munculnya konseling sebaya ini adalah sebuah konsep peer support. Konsep tersebut dimulai pada tahun 1939 guna membantu orang-orang yang mengkonsumsi alkohol dan telah menjadi pecandu. Di dalam konsep peer support tersebut, diyakini bahwa setiap individu yang pernah mengalami riwayat kecanduan alkohol, dan dinyatakan sembuh maka dapat pula membantu teman lain (pecandu alkohol) yang belum sembuh. Pada dasarnya konsep konseling sebaya adalah salah satu cara bagi remaja untuk belajar bagaimana untuk dapat saling membantu dan memperhatikan remaja lainnya. Menurut pendapat lain yang mengatakan bahwa konseling sebaya adalah sebagai sebuah ragam tingkah laku untuk membantu secara interpersonal yang dilakukan oleh seseorang (teman sebaya) non profesional. Dengan demikian, maka yang dikatakan konseling teman sebaya adalah suatu hubungan yang bersifat membantu antar individu atau kelompok yang memiliki persamaan nasip, kondisi, dan keadaan untuk saling membantu menemukan solusi permasalahan secara bersama-sama (Hardi, 2016).

Secara terminologi yang dimaksud dengan konseling sebaya adalah sebuah kegiatan saling membantu antar teman sebaya untuk menghadapi permaslaahan-permasalahan hidup guna mengembangkan potensipotensi diri ke arah yang lebih baik. Kemudian pendapat lain mengenai konseling sebaya adalah sebagai sebuah metode, sebagaimana dikemuakkan oleh Kan dalam Sofi, yang mendefinisikan bahwa “Peer counseling is the use problem solving skills and active listening, to support people who are our peers” yang bermakna konseling sebaya adalah penggunaan keterampilan pemecahan masalah dan mendengarkan secara aktif, untuk mendukung orang-orang yang menjadi rekan sebaya (Shofi, 2019).

Di dalam proses konseling teman sebaya, tidak menekankan pada isi konseling, akan tetapi menekankan pada proses berpikir, perasaan, serta proses pengambilan keputusan. Oleh sebab itulah, konseling sebaya mampu memberikan kontribusi melalui pengalaman, sehingga dapat dijadikan sebagai evaluasi diri. Selanjutnya adalah, yang dimaksud dengan teman sebaya merupakan individu dengan tingkat kematangan emosi dan umur yang sama. Sementara itu, menurut pendapat lain konseling sebaya adalah sebagai bentuk upaya untuk dapat mempengaruhi perubahan perilaku agar mengarah pada pemecahan permasalahan. Berdasarkan berbagai definisi di atas, maka dapat disimpulkna bahwa konseling sebaya adalah proses konseling dari seorang konselor yang profesional untuk dapat menggunakan teman sebaya konseli sebagai perantara dalam menyelesaikan permasasalahan konseli, (shofi, 2019) yang dilakukan secara online.

2.      Kualitas Hidup Remaja Di Masa Pandemi Covid-19

Menurut World Health Organization Quality of Life (WHOQOL) bahwa kualitas hidup adalah sebuah persepsi seseorang terhadap kehidupan dirinya sendiri di masyarakat dan dalam konteks budaya, serta sistem nilai yang ada. Dimana sistem nilai tersebut berkaitan dengan tujuan, harapan, perhatian dan standar. Secara umum makna kualitas hidup adalah konsep yang masih sangat luas yang dipengaruhi oleh kondisi fisik, psikologis, kemandirian, dan hubungan sosial dengan lingkungan. Kondisi darurat yang serius ini, mengharuskan semua aktivitas dilakukan dirumah termasuk sekolah dan aktivitas tambahan lain. Hal ini bisa membuat anak merasa tidak nyaman dan bosan. Ribut dengan adik atau kakak, merasa malas melakukan apa saja, bisa menjadi salah satu akibat kebosanan di rumah. 

Kesehatan fisik selama pandemi, tentu wajib dijaga. Namun, kesehatan mental tak kalah pentingnya. Berada dirumah saja tak menutup kemungkinan timbulnya perasaan lain selain bosan seperti cemas, waswas, hingga ketakutan yang berlebih. Berbagai masalah kejiwaan ini bisa mempengaruhi tubuhnya lho, dan berujung pada gejala fisik. Begini penjelasannya.

Saat anak menerima informasi tentang penyakit COVID-19 kemudian timbul rasa takut akan tertular (apalagi jika mereka lebih banyak mengakses informasi "menakutkan" seputar COVID-19), ini akan membuat mereka merasa terbebani, stres, cemas, hingga fungsi sistem organ menjadi menurun. Saat daya tahan tubuh menurun karena fungsi sistem organ yang turun, maka gejala fisik pun akan timbul. 

Cemas berlebih atau stres bisa menurunkan sistem imun tubuh, reaksi sistem syaraf yang berlebihan, hingga mempengaruhi sistem pencernaan. Gejala fisik lain yang timbul akibat kecemasan adalah : Sakit kepala, pusing, sempoyongan ; Jantung berdebar-debar ; Berkeringat banyak ; Nafas tidak terarut atau sesak ; Nyeri tekanan di leher dan pundak ; Rasa lelah tak berenergi ; Sakit, tidak nyaman pada bagian perut 

Kondisi ini harus segera diatasi. Jika tidak, bisa timbul penyakit dan menurunkan kualitas hidup. Dengan demikian, maka perlu adanya peningkatan kualitas hidup terlebih di masa pandemi Covid-19. Upaya tersebut dapat ditingkatkan dari level yang sedang, menjadi level yang tinggi, sehingga kualitas hidup remaja di masa pandemi Covid-19 tetap terjaga (Rohmah,2019).

3.      Konseling Sebaya Berbasis Online Untuk Kualitas Hidup Remaja Di Masa Pandemi Covid-19

Metode konseling pada umumnya dilakukan dengan dua cara, yakni cara langsung dan cara tidak
langsung. Metode langusung dilakukan dengan cara face to face antara konselor dengan konseli. Metode langsung dilakukan agar konseli dapat melihat secara langsung situasi dan kondisi yang dialami oleh konseli. Sementara itu, metode
tidak langsung dilakukan dengan perantara media lain, seperti media cetak atau elektronik. Metode ini digunakan ketika metode langsung tidak tepat digunakan, dengan beberapa alasan yang tidak memungkinkan konseling secara langsung dilakukan. Oleh sebab itulah, metode konseling secara tidak langsung, dapat menajadi salah satu alternatif untuk dapat membantu konseli yang sedang mengalami permasalahan.

Di dalam hal ini, bahwa yang dimaskud konseling di atas adalah secara umum, maka dapat di spesifikkan kepada konseling sebaya yang dilakukan dengan metode tidak langsung, yakni metode online. Metode online dilakukan mengingat bahwa di masa pandemu Covid-19 sedang melaksanakan program psychal distancing dan social distandcing. Selanjutnya, konseling sebaya secara online yang dimaksud ditujukan kepada remaja sebagai salah satu kelompok yang paling rentan terkena Covid-19, dengan beberap alasan diantaranya, menurunnya kesehatan fisik yang ditandani dengan berbagai penyakit yang dialami. Oleh sebab itu, konseling sebaya berbasis online dapat menjadi salah satu solusi alternatif untuk dapat tetap menajaga kualitas hidup remaja.

Metode konseling secara online memang bukan sesuatu yang baru lagi. Hal itu dikarenakan, metode ini biasa digunakan ketika konselor dan konseli memang tidak bisa melakukan pertemuan secara langsung untuk proses konseling. Akan tetapi, biasanya hal itu sangat jarang dilakukan ketika melaksanakan konseling sebaya, terlebih adalah untuk remaja. Oleh sebab itu, konseling sebaya berbasis online ini sangat baik digunakan, terlebih di masa pandemi Covid-19. Metode yang digunakan dengan memanfaatkan aplikasi seperti zoom, google meet, atau video call. Dengan menggunakan aplikasi-aplikasi tersebut, maka secara verbal remaja dengan teman sebayanya akan saling mengetahui satu dengan yang lainnya. Hal ini dapat menghilangkan rasa kesepian dan kesendirian, karena program sekolah bagi remaja sementara ditiadakan dan dirubah dengan pembelajaran daring.

 

 

  

Guna  mendapatkan  gambaran  secara  utuh,  mengenai  model  konseling  sebaya  berbasis  online  untuk menjaga kualitas hidup remaja di masa pandemi Covid-19 dapat dilihat pada gambarberikut ini:

 

Berdasarkan  gambar 1  di  atas,  maka  dapat  dibaca  sebagai  berikut  ini:  teman sebaya  adalah  sebagai  orang terdekat  bagi remaja, sehingga perannya sangat  penting untuk dapat mengatasi permasalahan hidup remaja. Dengan  demikian,  maka  teman sebaya dapat  berperan  sebagai  konselor  untuk  dapat membantu mencari  informasi  tentang  komunitas  konseling sebaya.  Kemudian,  setelah  mendapatkan komunitas  konseling sebaya,  maka  konselor  dapat  memberikan  kesempatan  bagi  remaja  untuk  dapat berkomunikasi,  berkenalan  satu  dengan  yang  lainnya.  Adapun  metode  yang  digunakan  yakni  dengan menggunakan  aplikasi  seperti  zoom,  google  meet  dan  video  call.  Dengan  adanya  aktivitas  tersebut  maka diharapkan remaja tidak merasa kesepian, kejenuhan dan keterasingan selama pandemi Covid-19.

 

Simpulan dan Saran

Konseling sebaya berbasis online adalah salah satu cara atau metode konseling yang dilakukan
secara tidak langsung dengan menggunakan bantuan aplikasi seperti zoom, google meet, atau video call. Konseling ini sangat berguna untuk remaja agar dapat tetap berkomunikasi dengan sebayanya selama pandemi Covid-19. Konseling sebaya berbasis online ini memang belum banyak dilakukan, karena biasanya remaja dapat berinterkasi, berkumpul dengan teman sebaya ketika kegiatan
sekolah tatap muka diadakan. Guna mengganti kegiatan sekolah tatap muka yang ditidakan dikarenakan pandemi Covid-19, maka sekolah dapat membantu remaja untuk tetap berinteraksi dengan teman sebaya melalui interaksi secara tidak langsung. Dengan demikian, konseling sebaya berbasis online dapat menjadi solusi alternatif bagi remaja untuk tetap menjaga kualitas hidup yang baik selama pandemi Covid-19 masih dinyatakan ada.


Daftar Rujukan

Astiti,  Shofi  Puji.  (2019)Efektivitas  Konseling  Sebaya    (Peer  Counseling)    dalam  Menuntaskan  Masalah Siswa, Indonesian Journal of Islamic Psychology, Vol.1, No. 2.

Prasetiawan, Hardi(2016), Konseling Teman Sebaya (Peer Counseling) Untuk Mereduksi Kecanduan Game Online, Jurnal Bimbingan dan Konseling, Vol. 6, No.1

Ruskandi , Joseph Henokh (2021) Kecemasan Remaja Pada Masa Pandemi Covid-19, Jurnal Penelitian Perawat Profesional, Vol. 3, No. 3

Siagian, Tiodora Hadumaon,(2020).Mencari Kelompok Berisiko Tinggi Terinfeksi Virus Corona Dengan Discourse  Network  Analysis, Jurnal  Kebijakan  Kesehatan  Indonesia  :  JKKI,  Vol.  09,  No.  02, 2020, 102.

Sulistiani,  Kurnia  dan  Kaslam,(2020). Kebijakan   Jogo   Tonggo  Pemerintah  Provinsi  Jawa   Tengah  dalam Penanganan Pandemi Covid-19, Jurnal Vox Populi, Vol. 3, No.1.


KUMPULAN FILE DOWNLOAD

RPP MAT KLS 7 bilangan bulat Unduh
RPP MAT KLS 7 himpunan Unduh
Silabus Bahasa Indonesia Unduh
Silabus Matematika Unduh

Sejarah Kabupaten Nganjuk

Cerita alumni Sispesa